Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, dilaporkan mencermati dengan serius konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel sebagai bahan pelajaran strategis bagi negaranya.
Ketegangan meningkat setelah serangan militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu spekulasi bahwa negara lain yang berseberangan dengan Washington, termasuk Korea Utara, bisa menjadi target berikutnya.
Namun sejumlah analis menilai kemungkinan serangan militer terhadap Korea Utara jauh lebih kecil dibandingkan Iran. Salah satu faktor utamanya adalah kemampuan nuklir Pyongyang yang dinilai lebih maju dan menjadi alat penangkal utama terhadap serangan eksternal.
Direktur Program Akademi di Korea Economic Institute, Ellen Kim, menyebut opsi militer terhadap Korea Utara akan sangat berisiko bagi Amerika Serikat. Selain kemampuan nuklir, Pyongyang juga memiliki hubungan dekat dengan China dan Russia yang dapat menjadi faktor penahan bagi kemungkinan operasi militer.
Pandangan serupa disampaikan anggota parlemen Korea Selatan dari Democratic Party of Korea, Park Jie-won. Ia menilai konflik di Timur Tengah justru dapat memperkuat keyakinan Kim Jong-un mengenai pentingnya senjata nuklir sebagai alat pencegah.
Meski demikian, pejabat AS menegaskan bahwa langkah militer terhadap Iran juga dimaksudkan sebagai sinyal bagi negara-negara yang memiliki ambisi nuklir. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan tindakan tersebut memberikan pesan strategis kepada para lawan Amerika Serikat yang tengah mengembangkan kemampuan nuklir.
Baca selengkapnya: https://sinyalekonomi.com/poli....tik/kim-jong-un-amat